Tujuan
diutusnya Nabi Muhammad salallahu’alaihi wasallam adalah untuk menyempurnakan
akhlaq umat manusia, sebagaimana sabda beliau salallahu’alaihi wasallam :
“Sesungguhnya
aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang terpuji.”
Dan
beliau salallahu’alaihi wasallam sendiri sudah berhasil menghiasi diri dengan
akhlaq yang terpuji tersebut. Termasuk bagian dari akhlaq beliau adalah al hilm
(sikap lemah lembut) yang sudah sepantasnya bagi kita untuk meneladaninya.
Al
Hilm adalah kelembutan dan sabar dalam menghadapi kejahilan orang-orang yang
tidak mengerti.
Allah
subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan
hamba-hamba Ar Rahman (Allah) itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi
dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil mengganggu mereka, mereka
mengucapkan kata-kata yang baik.” (Al Furqon : 63)
Sifat
al hilm ini sangat tinggi sehingga tidak disebutkan dalam Al Qur’an sifat al
hilm, kecuali kepada Ibrahim alaihissalam dan Ismail alaihissalam:
“Sesungguhnya
Ibrahim adalah seorang penyantun lagi sangat lembut hatinya.” (At Taubah: 114)
Demikian
pula dalam firman-Nya subhanahu wata’ala :
“Maka
Kami memberinya kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (Ash
Shaffat: 101)
Kemudian
Nabi Muhammad salallahu’alaihi wasallam menyatakan bahwa dirinya mengikuti
millah (agama) Ibrahim alaihissalam. Dan tentunya termasuk didalamnya sifat
beliau salallahu’alaihi wasallam al hilm.
Pernah
pada sutau hari Rasulullah salallahu’alaihi wasallam didatangi oleh Thufail
ibnu ‘Amr Ad Dausi radhiyallahu ‘anh. Kemudian menyatakan kepadanya : “Wahai
Rasulullah, sesungguhnya suku Daus telah menentang Allah dan Rasul-Nya. Maka
doakanlah kejelekan pada mereka!”. Maka Rasulullah salallahu’alaihi wasallam
menghadap kiblat seraya mengangkat kedua tangannya. Manusia pun berkata:
“Binasa Daus”. Ternyata Rasulullah salallahu’alaihi wasallam mengucapkan
kalimat:
Allahummahdini
dausan wa’ti bihim
“Ya
Allah, berilah hidayah kepada suku Daus dan datangkanlah mereka kemari!
(Muttafaqun ‘alihi)
Dari
sini terlihat bagaimana kelembutan dan kesabaran Rasulullah salallahu’alaihi
wasallam. dengan sifat al hilm, beliau salallahu’alaihi wasallam tidak
terburu-buru mendoakannya dengan doa jelek, tapi berdoa agar Allah memberi
hidayah kepada mereka.
Oleh
Karena itu, kita sebagai kaum muslimin yang menjadikan Rasulullah
salallahu’alaihi wasallam sebagai teladannya sudah semestinya kita mengikuti
jejak beliau salallahu’alaihi wasallam dan menjadikan sifat al hilm sebagai
perhiasannya. Memang hal ini tidak mudah, namun yang namanya al hilm akan
didapat dengan berupaya dan berusaha. Hal ini sebagaimana ucapan para ulama:
Ilmu
akan didapat dengan belajar, sedangkan sifat lembut akan didapat dengan
berlatih. (Al Hilm karya Ibnu Abi Dunya)
Pernah
pula pada suatu hari, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anh menceritakan: “Aku
pernah berjalan bersama Rasulullah salallahu’alaihi wasallam, sedangkan beliau
mengenakan jubah dari Najran yang kasar tepi-tepinya. Tiba-tiba seorang Arab
Badui menarik jubah beliau salallahu’alaihi wasallam dengan keras, sehingga aku
melihat bekas kain yang kasar tadi di leher Rasulullah salallahu’alaihi
wasallam karena kerasnya tarikan si badui tersebut. Si Badui berkata: “Wahai
Muhammad! Perintahkanlah untukku dengan pemberian-pemberian dengan harta Allah
yang Allah subhanahu wata’ala berikan kepadamu!” Maka Nabi salallahu’alaihi
wasallam pun menoleh kepadanya dan tersenyum seraya berkata kepada para shahabatnya:
“Berikan kepadanya pemberian-pemberian!” (Muttafaqun ‘alihi)
Lihat
pada kisah diatas, beliau salallahu’alaihi wasallam menghadapi kekasaran orang
tersebut dengan sifat mulia yang menyelamatkan beliau dari perangai yang jelek
dan membantu beliau dalam berdakwah kepada Allah subhanahu wata’ala.
Lebih
dari itu, pernah Rasulullah salallahu’alaihi wasallam disakiti dengan ucapan
yang jelek oleh seorang munafik pasca perang Hunain. Pada saat itu Nabi
salallahu’alaihi wasallam mendapatkan harta rampasan perang (ghanimah) yang
kemudian dibagikan kepada para muallaf yang baru masuk Islam. Memberikan kepada
Aqra’ bin Habis 100 ekor unta, kepada ‘Uyainah 100 ekor unta, dan diberikan
kepada yang lainnya seperti itu pula.
Berkatalah
seseorang dalam keadaan mukanya merah, matanya melotot, dan urat lehernya
menggelembung: “Wahai Muhammad, berbuat adillah! Sungguh pembagian ini bukan
pembagian yang ikhlas mengharapkan wajah Allah!” –dalam riwayat lain: Abdullah
bin Mas’ud yang mendengarkan ucapan itu kemudian menyampaikannya kepada
Rasulullah salallahu’alaihi wasallam – maka Rasulullah salallahu’alaihi
wasallam bersabda:
Rahimahullahu
muusa qod udziya biaksyaro min hadza fashobar
“Semoga
Allah merahmati Musa. Dia telah tersakiti lebih dari ini, tapi ia sabar.” (HR.
Al Bukhari)
Lihatlah
ketika beliau merasakan sakit hati dengan ucapan seorang munafik Dzul
Khuwaishirah, beliau salallahu’alaihi wasallam berupaya untuk mengingat beban
berat yang pernah ditanggung oleh Musa alaihissalam tetapi beliau sabar.
Nabi
Musa alaihissalam berdakwah kepada Bani Israil yang terkenal rewel, banyak
protes dan banyak tuntutan, sebagaimana Rasulullah salallahu’alaihi wasallam
menyatakan:
“…Sesungguhnya
orang-orang sebelum kalian binasa karena banyaknya tuntutan dan penyelisihan
mereka kepada nabi mereka…” (HR. Al Bukhari dan Muslim, dengan lafazh riwayat
Muslim)
Bani
Israil banyak menuntut Nabi Musa alaihissalam dengan kebodohan mereka, seperti:
- mereka menyatakan tidak akan beriman
sampai mereka melihat Allah subhanahu wata’ala secara nyata (dengan mata kepala
mereka sendiri),
- setiap mendapatkana kesulitan, mereka
menganggap Musa alaihissalam penyebabnya,
- tidak puas dengan apa yang telah
diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala berupa makanan dari al jannah (surga)
Manna dan Salwa dan menuntut sayur-mayur yang biasa mereka makan sebelumnya,
- tidak mau diajak berperang ( di jalan
Allah), bahkan mereka berkata:
Fadzhab
anta warobbuka faqootilaa innaa haahunaa qoo’idun.
“Pergilah
engkau bersama Rabb-mu dan berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami hanya
duduk menanti disini saja.” (Al Maidah: 24)
- Ketik melewati kaum yang menyembah
berhala, mereka meminta kepada nabi Musa alaihissalam untuk dijadikan
(dibuatkan) bagi mereka sebuah berhala:
“Dan
kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai
pada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata:
“Wahai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka
mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguhnya kalian ini
adalah kaum yang bodoh.” (Al A’raf: 138)
- Bahkan ketika mereka ditinggal oleh Musa
alaihissalam, mereka kembali menyembah patung sapi yang mereka buat.
Dan
masih banyak lagi tuntutan-tuntutan dan protes-protes Bani Israil terhadap Musa
alaihissalam yang menyakitkan hati beliau alaihissalam, namun beliau sabar.
Oleh
karena itu, ketika Rasulullah salallahu’alaihi wasallam disakiti oleh seorang
Arab Badui dengan tuduhan tidak adil dalam membagi rampasan perang (ghanimah),
Nabi salallahu’alaihi wasallam mengatakan:
“Siapa
lagi yang akan adil kalau Allah dan Rasul-Nya tidak adil?” (HR. Al Bukhari)
Sebagai
jawaban bahwa seorang rasul tidak mungkin berbuat tidak adil sedangkan ia
adalah teladan umatnya. Dan setelah itu beliau salallahu’alaihi wasallam
membesarkan hatinya dengan mengingat beban nabi Musa alaihissalam seraya
berkata:
Rahimahullahu
muusa qod udziya biaksyaro min hadza fashobar
“Semoga
Allah merahmati Musa. Dia telah tersakiti lebih dari ini, tetapi ia sabar.”
(HR. Al Bukhari)
Orang
yang mendapatkan sifat lembut adalah orang yang mendapatkan rahmat dari Allah
subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman tentang nabi-Nya:
“Maka
disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi
mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali Imran: 159)
Maka
dengan sifat al hilm, Rasulullah salallahu’alaihi wasallam menjadi orang yang
pemaaf dan tidak membalas kejelekan dengan kejelekan pula.
Ketika
seorang Yahudi mengucapkan kepada beliau salallahu’alaihi wasallam ucapan salam
yang diplesetkan: “Assamu’alaikum (Semoga kebinasaan atasmu).” Beliau
salallahu’alaihi wasallam hanya menjawab: “Wa’alaikum (dan atasmu).”
Ketika
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mendengarkan ucapan diatas, beliau berkata: “Apakah
engkau tidak mendengarkan ucapannya?” Beliau salallahu’alaihi wasallam
menjawab: “Ya. Bukankah aku telah membalasnya dengan kalimat ‘wa’alaikum’.
Doanya terhadap kita tidak akan terkabul, sedangkan doa kita terhadapnya
dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala.”
Kemudian
beliau salallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya
Allah tidak menyukai kejelekan dan saling membalas dengan kejelekan.” (HR.
Muslim)
Inilah
yang Allah subhanahu wata’ala perintahkan dalam ayat lainnya, yaitu agar
menahan marah dan bersifat pemaaf.
“(Yaitu)
orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik diwaktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Dan Allah menyukai
orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134)
Dengan
mengamalkan kandungan ayat-ayat dan hadits-hadits ini insya Allah amal shalih
kita akan lebih sempurna.
Wallahu
a’lam.
sumber
Buletin Al Ilmu, Edisi No: 42/XI/VI/1429. Cerminan Sifat Al Hilm (Kelembutan)
Rasulullah salallahu’alaihi wasallam. Oleh Al Ustadz Muhammad.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar