Minggu, 09 Maret 2014

CERMINAN SIFAT AL HILM (KELEMBUTAN) RASULULLAH SALALLAHU’ALAIHI WASALLAM


Tujuan diutusnya Nabi Muhammad salallahu’alaihi wasallam adalah untuk menyempurnakan akhlaq umat manusia, sebagaimana sabda beliau salallahu’alaihi wasallam :
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang terpuji.”
Dan beliau salallahu’alaihi wasallam sendiri sudah berhasil menghiasi diri dengan akhlaq yang terpuji tersebut. Termasuk bagian dari akhlaq beliau adalah al hilm (sikap lemah lembut) yang sudah sepantasnya bagi kita untuk meneladaninya.

Al Hilm adalah kelembutan dan sabar dalam menghadapi kejahilan orang-orang yang tidak mengerti.
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan hamba-hamba Ar Rahman (Allah) itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil mengganggu mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (Al Furqon : 63)
Sifat al hilm ini sangat tinggi sehingga tidak disebutkan dalam Al Qur’an sifat al hilm, kecuali kepada Ibrahim alaihissalam dan Ismail alaihissalam:
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang penyantun lagi sangat lembut hatinya.” (At Taubah: 114)
Demikian pula dalam firman-Nya subhanahu wata’ala :
“Maka Kami memberinya kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (Ash Shaffat: 101)
Kemudian Nabi Muhammad salallahu’alaihi wasallam menyatakan bahwa dirinya mengikuti millah (agama) Ibrahim alaihissalam. Dan tentunya termasuk didalamnya sifat beliau salallahu’alaihi wasallam al hilm.
Pernah pada sutau hari Rasulullah salallahu’alaihi wasallam didatangi oleh Thufail ibnu ‘Amr Ad Dausi radhiyallahu ‘anh. Kemudian menyatakan kepadanya : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya suku Daus telah menentang Allah dan Rasul-Nya. Maka doakanlah kejelekan pada mereka!”. Maka Rasulullah salallahu’alaihi wasallam menghadap kiblat seraya mengangkat kedua tangannya. Manusia pun berkata: “Binasa Daus”. Ternyata Rasulullah salallahu’alaihi wasallam mengucapkan kalimat:
Allahummahdini dausan wa’ti bihim
“Ya Allah, berilah hidayah kepada suku Daus dan datangkanlah mereka kemari! (Muttafaqun ‘alihi)
Dari sini terlihat bagaimana kelembutan dan kesabaran Rasulullah salallahu’alaihi wasallam. dengan sifat al hilm, beliau salallahu’alaihi wasallam tidak terburu-buru mendoakannya dengan doa jelek, tapi berdoa agar Allah memberi hidayah kepada mereka.
Oleh Karena itu, kita sebagai kaum muslimin yang menjadikan Rasulullah salallahu’alaihi wasallam sebagai teladannya sudah semestinya kita mengikuti jejak beliau salallahu’alaihi wasallam dan menjadikan sifat al hilm sebagai perhiasannya. Memang hal ini tidak mudah, namun yang namanya al hilm akan didapat dengan berupaya dan berusaha. Hal ini sebagaimana ucapan para ulama:
Ilmu akan didapat dengan belajar, sedangkan sifat lembut akan didapat dengan berlatih. (Al Hilm karya Ibnu Abi Dunya)
Pernah pula pada suatu hari, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anh menceritakan: “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah salallahu’alaihi wasallam, sedangkan beliau mengenakan jubah dari Najran yang kasar tepi-tepinya. Tiba-tiba seorang Arab Badui menarik jubah beliau salallahu’alaihi wasallam dengan keras, sehingga aku melihat bekas kain yang kasar tadi di leher Rasulullah salallahu’alaihi wasallam karena kerasnya tarikan si badui tersebut. Si Badui berkata: “Wahai Muhammad! Perintahkanlah untukku dengan pemberian-pemberian dengan harta Allah yang Allah subhanahu wata’ala berikan kepadamu!” Maka Nabi salallahu’alaihi wasallam pun menoleh kepadanya dan tersenyum seraya berkata kepada para shahabatnya: “Berikan kepadanya pemberian-pemberian!” (Muttafaqun ‘alihi)
Lihat pada kisah diatas, beliau salallahu’alaihi wasallam menghadapi kekasaran orang tersebut dengan sifat mulia yang menyelamatkan beliau dari perangai yang jelek dan membantu beliau dalam berdakwah kepada Allah subhanahu wata’ala.
Lebih dari itu, pernah Rasulullah salallahu’alaihi wasallam disakiti dengan ucapan yang jelek oleh seorang munafik pasca perang Hunain. Pada saat itu Nabi salallahu’alaihi wasallam mendapatkan harta rampasan perang (ghanimah) yang kemudian dibagikan kepada para muallaf yang baru masuk Islam. Memberikan kepada Aqra’ bin Habis 100 ekor unta, kepada ‘Uyainah 100 ekor unta, dan diberikan kepada yang lainnya seperti itu pula.
Berkatalah seseorang dalam keadaan mukanya merah, matanya melotot, dan urat lehernya menggelembung: “Wahai Muhammad, berbuat adillah! Sungguh pembagian ini bukan pembagian yang ikhlas mengharapkan wajah Allah!” –dalam riwayat lain: Abdullah bin Mas’ud yang mendengarkan ucapan itu kemudian menyampaikannya kepada Rasulullah salallahu’alaihi wasallam – maka Rasulullah salallahu’alaihi wasallam bersabda:
Rahimahullahu muusa qod udziya biaksyaro min hadza fashobar
“Semoga Allah merahmati Musa. Dia telah tersakiti lebih dari ini, tapi ia sabar.” (HR. Al Bukhari)
Lihatlah ketika beliau merasakan sakit hati dengan ucapan seorang munafik Dzul Khuwaishirah, beliau salallahu’alaihi wasallam berupaya untuk mengingat beban berat yang pernah ditanggung oleh Musa alaihissalam tetapi beliau sabar.
Nabi Musa alaihissalam berdakwah kepada Bani Israil yang terkenal rewel, banyak protes dan banyak tuntutan, sebagaimana Rasulullah salallahu’alaihi wasallam menyatakan:
“…Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena banyaknya tuntutan dan penyelisihan mereka kepada nabi mereka…” (HR. Al Bukhari dan Muslim, dengan lafazh riwayat Muslim)
Bani Israil banyak menuntut Nabi Musa alaihissalam dengan kebodohan mereka, seperti:
-        mereka menyatakan tidak akan beriman sampai mereka melihat Allah subhanahu wata’ala secara nyata (dengan mata kepala mereka sendiri),
-        setiap mendapatkana kesulitan, mereka menganggap Musa alaihissalam penyebabnya,
-        tidak puas dengan apa yang telah diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala berupa makanan dari al jannah (surga) Manna dan Salwa dan menuntut sayur-mayur yang biasa mereka makan sebelumnya,
-        tidak mau diajak berperang ( di jalan Allah), bahkan mereka berkata:
Fadzhab anta warobbuka faqootilaa innaa haahunaa qoo’idun.
“Pergilah engkau bersama Rabb-mu dan berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.” (Al Maidah: 24)

-        Ketik melewati kaum yang menyembah berhala, mereka meminta kepada nabi Musa alaihissalam untuk dijadikan (dibuatkan) bagi mereka sebuah berhala:
“Dan kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai pada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: “Wahai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguhnya kalian ini adalah kaum yang bodoh.” (Al A’raf: 138)
-        Bahkan ketika mereka ditinggal oleh Musa alaihissalam, mereka kembali menyembah patung sapi yang mereka buat.
Dan masih banyak lagi tuntutan-tuntutan dan protes-protes Bani Israil terhadap Musa alaihissalam yang menyakitkan hati beliau alaihissalam, namun beliau sabar.
Oleh karena itu, ketika Rasulullah salallahu’alaihi wasallam disakiti oleh seorang Arab Badui dengan tuduhan tidak adil dalam membagi rampasan perang (ghanimah), Nabi salallahu’alaihi wasallam mengatakan:
“Siapa lagi yang akan adil kalau Allah dan Rasul-Nya tidak adil?” (HR. Al Bukhari)
Sebagai jawaban bahwa seorang rasul tidak mungkin berbuat tidak adil sedangkan ia adalah teladan umatnya. Dan setelah itu beliau salallahu’alaihi wasallam membesarkan hatinya dengan mengingat beban nabi Musa alaihissalam seraya berkata:
Rahimahullahu muusa qod udziya biaksyaro min hadza fashobar
“Semoga Allah merahmati Musa. Dia telah tersakiti lebih dari ini, tetapi ia sabar.” (HR. Al Bukhari)
Orang yang mendapatkan sifat lembut adalah orang yang mendapatkan rahmat dari Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman tentang nabi-Nya:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali Imran: 159)
Maka dengan sifat al hilm, Rasulullah salallahu’alaihi wasallam menjadi orang yang pemaaf dan tidak membalas kejelekan dengan kejelekan pula.

Ketika seorang Yahudi mengucapkan kepada beliau salallahu’alaihi wasallam ucapan salam yang diplesetkan: “Assamu’alaikum (Semoga kebinasaan atasmu).” Beliau salallahu’alaihi wasallam hanya menjawab: “Wa’alaikum (dan atasmu).”
Ketika ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mendengarkan ucapan diatas, beliau berkata: “Apakah engkau tidak mendengarkan ucapannya?” Beliau salallahu’alaihi wasallam menjawab: “Ya. Bukankah aku telah membalasnya dengan kalimat ‘wa’alaikum’. Doanya terhadap kita tidak akan terkabul, sedangkan doa kita terhadapnya dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala.”
Kemudian beliau salallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai kejelekan dan saling membalas dengan kejelekan.” (HR. Muslim)
Inilah yang Allah subhanahu wata’ala perintahkan dalam ayat lainnya, yaitu agar menahan marah dan bersifat pemaaf.
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134)
Dengan mengamalkan kandungan ayat-ayat dan hadits-hadits ini insya Allah amal shalih kita akan lebih sempurna.
Wallahu a’lam.

sumber Buletin Al Ilmu, Edisi No: 42/XI/VI/1429. Cerminan Sifat Al Hilm (Kelembutan) Rasulullah salallahu’alaihi wasallam. Oleh Al Ustadz Muhammad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar